Minggu, 18 November 2012
PAUD - Mawar Putih Lumban Huala
Fajar menyingsing di desa Lumban Huala, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Seorang perempuan setengah baya dengan senyum ceria di wajahnya tampak berjalan penuh semangat menyusuri jalan tanah berbatu yang di kedua sisinya dipenuhi semak belukar. Ia menggendong seorang bocah kecil di punggungnya yang tak kalah cerianya. Perempuan ini
menuju tempatnya bekerja, sebuah Lembaga PAUD Mawar Putih tempat ia mengabdikan dirinya untuk menjadi tenaga pendidik (tendik) anak-anak usia dini. Martianna Manurung (48) biasa dipanggil Bu Gio atau Oppu Ares, telah menjadi tendik selama 4 tahun di lembaga PAUD tersebut. Martianna berprofesi ganda karena bekerja sambil menggendong sang cucu, Ares Giftson Nainggolan, yang berusia 1 tahun 3 bulan. Orang tua Ares bekerja sebagai PNS, sehingga harus menitipkan Ares kepada neneknya yang tinggal berdekatan dengan rumah mereka. Sambil menggendong Ares, Martianna menempuh perjalanan sejauh 700 meter berjalan kaki selama 1/2 jam untuk mencapai Lembaga PAUD tempatnya bekerja. Meski sambil menggendong cucunya, Martianna tetap sigap menyiapkan mainan, menyambut anak didiknya masuk ke ruang kelas, dan memulai pelajaran dengan lincahnya.Bagi sebagian orang yang bukan masyarakat asli, hal ini tentulah sangat asing dan dianggap dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar. Namun bagi masyarakat adat Tapanuli, menggendong anak atau cucu dengan kain sementara mereka melakukan kegiatan sehari-hari di rumah atau di ladang adalah hal biasa. Martianna tidak punya pilihan lain. Sejak Oktober 2010 ia harus mengasuh cucu kesayangannya itu. Ares adalah cucu pertamanya, yang dalam bahasa Tapanuli disebut “Pahompu Panggoaran” yang artinya kebesaran dan kebanggaan. “Saya mengabdi pada anak-anak karena berpegang teguh pada falsafah adat orang Batak “Anakkonhi do Hamoraon di Au” yang artinya anak bagi orang Batak adalah kekayaan yang melebihi segalanya dan ”Salah Mandasor Sega Luhutan” yang artinya apabila kita salah mendidik dari dasar akan mengakibatkan kerusakan fatal setelah dewasa”, ujarnya bijak.
Orang tua dan masyarakat Desa Lumban Huala sangat percaya pada Martianna karena ia termasuk orang yang berhasil mendidik dan menyekolahkan anaknya, peduli akan kegiatan yang menyangkut pendidikan dan masyarakat. Orang tua Martianna adalah guru dan juga tokoh masyarakat di desa itu. Dia aktif di berbagai kegiatan masyarakat di desanya dari pelayanan Gereja hingga PKK. Namun kegigihan Martianna mengajar sambil menggendong cucunya itulah yang mengundang respon positif masyarakat. Masyarakat akhirnya terketuk untuk berkontribusi membenahi lokasi layanan serta membayar iuran bulanan. Tendik lain di sekitar desa Martianna juga termotivasi dan datang melihat keberhasilannya dalam memberikan pembelajaran di PAUD Mawar Putih.
Martianna Manurung tidak pernah menerima honor dari Lembaga PAUD tempatnya bekerja hingga adanya bantuan dana hibah program PPAUD di tahun 2009. Martianna akhirnya menerima honor walau kecil. Semua ini dilakukannya karena sudah merupakan panggilan jiwanya untuk melayani anak usia dini di desanya agar mampu menjadi anak-anak yang dapat diandalkan sebagai penerus bangsa.
Yang membanggakan adalah sa
ng cucu di usia yang masih dibawah rata-rata anak PAUD itu juga turut belajar dan mendapat stimulasi. Bagaimana tidak? Selama dua jam dia menyimak semua ucapan dan gerakan dan ikut bermain bersama neneknya itu. Ares belajar lebih cepat dari anak seusianya yang belum masuk PAUD. Martianna Manurung sudah sangat dikenal di Kabupaten Tobasa. Kegigihan, semangat dan kepiawaiannya mengajar telah menginspirasi banyak orang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



muantap
BalasHapus